Subscribe

RSS Feed (xml)

Google
Photobucket

Wednesday, August 20, 2008

Hakekat Persekutuan

Ketika pikiran kita telah diperbaharui, maka itu akan membuat hubungan kita dengan Tuhan mengalami progresifitas. Kerinduan untuk bersekutu dengan Tuhan akan semakin besar. Banyak orang yang tidak bisa mengalami progresifitas dengan Tuhan karena ada salah konsep mengenai persekutuan.


Definisi persekutuan: bersatunya dua pribadi atau kelompok yang berbeda untuk mengerjakan tujuan yang sama. Selama ini pikiran orang mengenai persekutuan adalah banyak berdoa. Sebenarnya persekutuan tidak bicara tentang berapa banyak kita berdoa, tapi berapa besar kesatuan yang kita capai bersama Dia. Persekutuan bicara tentang sesuatu yang lebih dalam. Kita harus bersekutu dengan Tuhan sampai kita dapat mencurahkan isi hati kita dan Tuhan mencurahkan isi hati-Nya kepada kita. Persekutuan harus berkualitas, jadi harus disediakan waktu khusus. Kita bertukar pikiran sehingga pikiran kita menjadi pikiran Allah dan pikiran Allah menjadi pikiran kita, sehingga menyatu satu sama lain. Jangan bersekutu dengan Tuhan secara terburu-buru, sediakanlah waktu yang berkualitas.


Yohanes 15:15 – Yesus tidak menyebut kita hamba lagi kalau kita saling mencurahkan isi hati. Ketika kita bersekutu dengan Allah secara akurat, maka kita akan menjadi sahabat Allah. Kalau kita bersekutu dengan benar, maka kita tidak akan mengurusi hal-hal sepele dan kecil lagi, tapi hal-hal besar. Kalau kita menjadi sahabat Allah, apa saja yang kita kehendaki akan Dia berikan (15:7). Tuhan tidak kuatir dengan permintaan kita karena Ia tahu pikiran kita sudah sama dengan pikiran-Nya.


Jadi inti persekutuan kita adalah sudahkah kita menyatu dengan Dia? Kalau persekutuan kita benar, mau tidak mau kita akan menyatu dengan Tuhan. Intinya ada kesatuan dalam hal pikiran dan tujuan. Kesatuan dimulai dari roh, tapi harus berlanjut di pikiran. Jadi frekuensi roh kita semakin selaras dengan Tuhan. Jika frekuensi roh kita sudah selaras dengan Dia, maka kita akan dengan mudah dapat mendengar suara-Nya.


Yakobus 2:23 – Abraham percaya kepada apa yang Tuhan katakan, dan kepercayaannya dijadikan kebenaran oleh Allah, karena itu ia disebut sahabat Allah. Perhatikan, Abraham tidak disebut sahabat Allah karena ia banyak berdoa tetapi firman yang ia percayailah yang membuat Dia menjadi sahabat Allah.


Jadi untuk dapat memiliki hubungan yang akurat, pertama-tama kita harus menyelaraskan frekuensi roh kita dengan Tuhan, yang ke dua, kita harus menyelaraskan pikiran kita dengan Tuhan. Cara menyelaraskan frekuensi roh adalah dengan berdoa secara agresif, dan cara menyelaraskan pikiran kita adalah dengan membuat firman menjadi mendarah daging (menyatu) dalam hidup kita (Yoh. 15:7). Ketika kedua hal ini terjadi dalam hidup kita, maka saat itulah baru terjadi persekutuan.


Roma 4:17-22 – Abraham menerima firman bahwa ia akan menjadi bapa banyak bangsa. Firman ini pasti bertentangan dengan pikiran Abraham karena konsep pikirnya ia tidak akan punya anak. Dari sini, Abraham memiliki pilihan. Memercayai firman atau pikirannya sendiri. Abraham mengganti pikirannya dengan pikiran Allah sehingga terangkatlah pintu gerbang yang telah tertutup sehingga raja kemuliaan itu masuk dan membuat apa yang mustahil menjadi berubah sehingga rahim Sara terbuka. Jangan biarkan pola pikir kita terbentuk dari pengalaman hidup, tapi biarkan pikiran kita dibentuk dari firman. Buat setiap firman dan nubuatan menjadi dalam pikiranmu. Bayangkan firman itu sehingga menggantikan pikiran yang lama, lalu perkatakan firman itu. Buat pikiranmu menjadi sama dengan Tuhan sehingga faktanya bertolak belakang, tapi ita tetap memegang firman karena firmanlah yang akan terjadi. Bagi orang yang sudah menyatu dengan Dia, tidak ada yang mustahil baginya.

1 comments:

Hapi said...

Gain up to 600 visitors in a day for just one message here.