Efesus 6:10-13
Peperangan kita yang sesungguhnya tidak terjadi di alam fisik ini, tapi ada dalam dunia roh. Peperangan kita bukan melawan oknum-oknum yang kelihatan, tapi yang tidak kelihatan. Banyak yang tidak menyadari ini sehingga banyak yang berperang di medan perang yang salah.
Kita harus menyadari bahwa kita ini makhluk roh yang memiliki jiwa dan tinggal di dalam tubuh. Keberadaan kita yang sesungguhnya ada di dalam roh kita. Ketika roh kita kuat, tubuh dan jiwa kita jadi kuat. Tubuh hanya memanifestasikan apa yang ada di dalam roh kita. Itu sebabnya penting bagi kita untuk terus berlatih bagaimana hidup dipimpin roh, berpikir menurut roh, berkata dan bergerak di dalam roh.
Ketika ada orang yang berkata-kata, perkataan itu memiliki roh di dalamnya. Kita perlu mengerti roh apa yang ada di balik kata-kata itu. Kalau yang dilepaskan adalah roh kepahitan, roh kita harus memiliki kemampuan untuk memfilter roh kepahitan itu. Jika roh kemarahan, kita bisa memasang filter untuk melenyapkan roh kemarahan. Kita perlu berpikir secara roh. Biasakan diri untuk berjalan dituntun Roh.
Kita perlu mengerti pola kerja dalam dunia roh. Kita harus menjadi pribadi-pribadi yang diperhitungkan dalam dunia roh. Dunia roh mengenal otoritas. Iblis mengenal dan menghormati struktur otoritas yang ada. Itu sebabnya mata uang dunia roh berbeda dengan dunia fisik. Kalau kita punya mata uang ini, maka kita akan diperhitungkan dalam dunia roh. Biarlah nama kita tidak hanya dikenal di surga tapi juga di neraka.
Bagaimana kita bisa diperhitungkan dalam dunia roh. Mata uang yang berlaku dalam dunia roh ada 3 pertanyaan. Kalau kita mengerti pertanyaan ini, maka kita akan diperhitungkan di dunia roh.
1. Anak siapakah engkau? (1 Sam. 17:55-58)
Pertanyaan pertama yang akan ditanyakan dalam dunia roh adalah “Anak siapakah engkau?” Ketika Daud berhadapan dengan Goliat dan mengalahkan Goliat, yang ditanya oleh Saul adalah anak siapakah Daud. Pertanyaan yang harus kita yakini adalah siapakah bapa kita. Diperhitungkan atau tidaknya kita tergantung dari siapakah bapa kita. Kalau bapa kita punya posisi rohani yang tinggi, maka kita akan diperhitungkan di dunia roh. Engkau diperhitungkan karena bapamu orang yang diperhitungkan. Siapa bapa rohanimu sangat menentukan hidup kita dalam dunia roh. Ex.: Anak Presiden akan diperlakukan berbeda. Itu sebabnya kita harus dengan bisa yakin menjawab siapa bapa kita ketika ditanya, tidak bisa berbohong.
Ketika kita ada di dalam dunia roh, kita perlu punya bapa yang punya posisi di dunia roh. Bagaimana kita bisa tahu seorang bapa memiliki posisi rohani yang tinggi? Perhatikan apa yang dia katakan, kalau yang dia katakan terjadi, maka artinya dia punya otoritas/posisi. Dalam dunia roh kita bisa memilih bapa rohani, tapi harus punya DNA yang sama. Kalau kita mengaku anak, tapi DNA-nya berbeda, maka Anda bukan anak, cuma mengaku anak. Kita tidak bisa berbohong di dunia roh karena di dunia roh tidak ada yang samar-samar, yang ada hanyalah kepastian. Iman bergerak dalam dunia roh, bukan dunia fisik, itu sebabnya iman punya kepastian. Dunia roh bergerak menurut hukum, dan semua akan berjalan seperti hukum yang telah ditetapkan.
Kita perlu menyelaraskan DNA kita dengan bapa rohani dengan menyelaraskan pikiran dan roh kita dengan dirinya.
2. Siapakah engkau? (Kis. 19:13-16)
Ada imam Yahudi yang bernama Skewa yang memiliki tujuh anak. Mereka melihat Paulus mengusir setan dalam nama Yesus. Lalu mereka adopsi ‘mantera’ Paulus. Mereka berkata, “Dalam nama Yesus yang diberitakan oleh Paulus.” Kita tidak bisa berhadapan dengan iblis menggunakan pewahyuan orang lain, tapi harus dari pewahyuan langsung. Ketika kita berhadapan dengan musuh, status kita selalu akan dipertanyaan Siapa kita artinya apa posisi kita dalam dunia roh.
Orang yang punya posisi rohani akan dikenal oleh iblis. Mereka tahu struktur otoritas sehingga mereka tidak bisa macam-macam. Anak-anak Skewa tidak punya otoritas di atas iblis sehingga mereka dikalahkan. Jadi di samping kita harus tahu posisi rohani bapa rohani kita, kita juga harus tahu posisi rohani kita di dunia roh. Contohnya: walaupun kita anak Presiden tapi kalau blo’on tetap tidak diperhitungkan. Kalau dia bersama bapanya, mungkin dia diperhitungkan, tapi kalau sendirian dia akan tetap dipertanyakan. Bapanya memang berkualitas, tapi anaknya tidak berkualitas. Seorang bapa yang berkualitas sudah selayaknya memiliki anak yang berkualitas. Jangan hanya bergantung pada bapa kita terus. Kalau kita hanya menempel terus dengan bapa kita, tapi tidak mau membangun manusia roh dan meningkatkan posisi rohani kita sendiri, maka kita tidak akan bisa melayani dengan kapasitas yang sama seperti ketika kita bersama bapa kita. Lama kelamaan orang akan tahu kita ini tidak punya posisi rohani. Musuh akan mengetahuinya dan akan menggocoh kita ketika tidak ditemani bapa kita.
Bagaimana kita tahu posisi rohani kita? Perhatikan apa yang kita katakan, jika apa yang kita katakan terjadi, maka artinya posisi kita tinggi. Kalau kita punya otoritas, maka semua yang ada di bawah otoritas kita akan berusaha menggenapi apa yang kita katakan. Dengan semakin banyak ucapan kita yang terjadi, artinya posisi kita makin tinggi. Masalahnya bukan apa yang dikatakan, tapi siapa yang mengatakannya. Masalahnya bukan apa yang dilakukan, tapi siapa yang melakukannya. Ketika Musa mengedangkan tangan, laut terbelah. Dia punya posisi rohani, sehingga ia menjadi wakilnya Tuhan di dunia ini. Kita bisa mengadopsi kata-kata orang yang memiliki posisi rohani, tapi ketika kita yang mengatakannya, kata-kata kita tidak berdampak karena kita tidak memiliki posisi rohaninya. Perkataannya mungkin sama, tapi karena posisinya tidak ada, maka tidak menghasilkan apa-apa. Jangan melatih ‘mantera’ tapi bangunlah posisi rohani. Ketaatan akan menumbuhkan otoritas. Semakin kita taat pada firman-Nya, posisi rohani kita akan terus meningkat. Kalau kita menjadi orang yang diperhitungkan di alam roh, maka kita tidak akan mengalami kesulitan di dunia fisik. Kalau kita bisa meraih kemenangan di dunia, kita akan menang di dunia fisik. Seseorang yang sudah menang di alam roh, tidak akan kalah di alam fisik. Daud bukan hanya tahu posisi rohani bapanya tapi juga posisi rohaninya (I Sam. 17:32-37).
3. Dengan otoritas manakah engkau diutus? (Kis. 4:7-10)
Ketika kita masuk ke dunia, di dalam dunia roh kita akan ditanya dari otoritas mana. Kalau kita diutus dengan posisi yang lebih rendah dari dunia roh, maka kita akan terlibas di sana. Dunia roh memperhitungkan korporasi. Contohnya: Seorang polisi bertindak dengan otoritas lembaga kepolisian, jika seorang melawan dia, artinya melawan seluruh lembaga kepolisian. Dia bertindak tidak dan otoritasnya sendiri, tapi dari otoritas kepolisian RI. Ini bicara tentang, darimanakah kita diutus ke dunia sekuler? Itu sebabnya, di mana kita tertanam dalam sebuah gereja local, itu sangat menentukan. Kalau kita tertanam di sebuah gereja yang lemah, ketika kita terjun ke dunia sekuler, kita memiliki otoritas yang lemah. Karena itu jangan pernah terjun ke dunia sekuler atas nama pribadi kita. Pastikan kita diutus oleh gereja yang memerintah. Korporasi selalu memiliki otoritas yang lebih besar dari otoritas pribadi. Di gereja mana kita terhisap sangat menentukan hidup kita.
Korporasi itu menyangkut Undang-Undang. Hukumnya kuat. Ingat, dalam dunia roh hukum sangat diperhitungkan. Kalau dalam dunia roh kita diutus oleh gereja yang memerintah, kita akan diperhitungkan. Sebuah gereja yang memerintah adalah wakil surga di muka bumi ini. Dan gereja itu diberikan ijin untuk memproduksi anak-anak kerajaan untuk ditaburkan di dunia. Kalau produksinya tidak sama, maka ijinnya akan dicabut. Itu sebabnya gereja yang memerintah akan berusaha untuk menanamkan benih-benih surga sehingga jemaatnya memiliki nilai-nilai kerajaan surga dan menghidupi nilai-nilai itu, sehingga dapat menggarami dunia dengan nilai-nilai kerajaan. Setiap keputusan yang dibuat akan menghasilkan kekuatan yang dahsyat.
[+/-] Selengkapnya...
[+/-] Ringkasan...